WAK SALIM: Lelaki Yang Berjalan Menunduk (5) | Berita dan Review Bekasi Terkini - reviewbekasi.com
Inspirasi

WAK SALIM: Lelaki Yang Berjalan Menunduk (5)

WAK SALIM: Lelaki Yang Berjalan Menunduk (5)

Oleh Sutan Eries Adlin

Lagi-lagi, sosok Wak Salim hilang dari benak Bhisma. Tinggal Rumi seorang, tengah mengutip penggalan kisah cinta Laila dan Majnun. Begitulah manusia, cepat sekali teralihkan konsentrasinya. Sesuatu yang baru biasanya lebih menarik. Yang lama pun ditinggalkan. Apalagi Rumi sedang membedah tema tentang cinta, urusan nomor satu bagi anak muda seusia Bhisma.

Tulisan Rumi menumbuhkan semangat Bhisma. Seperti angin segar kedua. Rasa kantuknya hilang. Ia beringsut ke ranjang. Sambil tengkurap menikmati Buku Fihi Ma Fihi yang dilipat tepat halaman 95 sebagai patokan. Langsung berkerut dahinya. Begitu banyak ‘kalimat tinggi’ dari Majnun yang disampaikan Rumi di lembaran itu. Bhisma kesulitan memahami. Apalagi terjemahan kitab Fihi Ma Fihi itu kurang enak dibaca.

Diambil Fihi Ma Fihi yang merupakan terjemahan dari bahasa Arab. Dicari Pasal 16, sesuai dengan Wacana 16 pada terjemahan dari bahasa Inggris. Bhisma lebih sreg dengan saduran di buku itu. Bahasanya lebih mengalir. Nyaman untuk dibaca. Kemudian, Bhisma mulai asyik-masyuk lagi dengan sembilan halaman di Pasal 16, seperti asyik-masyuknya cinta Majnun kepada Laila.

Tidak seperti ucapan Wak Salim dan kutipan dalam buku terjemahan dari bahasa Inggris itu, ‘siapa pun yang dicintai adalah cantik, tetapi tidak semua yang cantik dicintai’, buku Fihi Ma Fihi terjemahan dari bahasa Arab menyajikan kalimat berbeda meski nuansanya sama.

Setiap kekasih pasti indah. Tetapi tak setiap yang indah adalah kekasih.

Ah, Bhisma lebih terpukau dengan terjemahan ucapan Rumi yang ini. Bhisma tersenyum-senyum sendiri membaca deretan kalimat cinta dari Majnun. Bukan kepada Laila tetapi kepada orang-orang yang meragukan cintanya kepada perempuan itu. Begitu meluapnya rasa cinta Majnun untuk Laila. Utuh, tidak bisa dibagi, apalagi dipisahkan!

Namun, sunggingan di bibir Bhisma berumur pendek. Berganti helaan nafas berat yang mencapai puncaknya dengan dahi berkerenyit. Ujung alis mahasiswa psikologi yang sebenarnya gemar membaca itu seperti hampir bersentuhan. Apatah lagi itu, kalau bukan pertanda otak di kepalanya sedang bekerja ekstra keras!

Setelah Laila dan Majnun, Bhisma harus mencerna makna di balik sederet kata; cangkir, anggur, cinta dengan c kecil, dan  Cinta dengan C besar! Bahasan yang terakhir ini memaksa urat syaraf di otak Bhisma menjadi lebih menegang. Memang, Rumi tak lagi bertutur tentang asmara Anak Adam. Yang ada adalah Cinta antara DIA dan aku.

Entah kebetulan atau tidak, beberapa hujjah-hujjah di luar urusan cinta dengan huruf c kecil dari Rumi menjawab tuntas apa yang menjadi pertanyaan Bhisma selama ini. Bahkan persis sama. Seolah Sang Sufi tahu isi kepala mahasiswa semester enam itu.

Seorang bertanya: Jika kita melakukan kebaikan dan beramal saleh, lantas kita mengharap kebaikan kepada Allah agar ia memberikan ganjaran yang setimpal, apakah itu salah?

Begitu yang tertulis di halaman 53 di kitab yang kini sudah berada di meja dalam kamar Bhisma. Beberapa menit sebelumnya, anak muda itu merasa tak sanggup lagi membaca buku itu sambil tiduran. Harus dengan konsentrasi penuh untuk bisa paham apa yang Rumi mau. Begitu kesimpulan Bhisma. Artinya, ia harus duduk membacanya.

Bhisma merasa, sesorang yang disebut Rumi dalam tulisan itu adalah dirinya. Pertanyaan itu sama persis dengan tanda-tanya. Dan jawaban dari sang sufi atas kegundahan Bhisma itu begitu terang benderang, tak menyisakan kegelapan sedikitpun.

Demi Allah! Sudah sepatutnya setiap orang memiliki harapan. Iman itu sendiri terdiri atas rasa takut dan harapan.

Begitu penjelasan Rumi. Kemudian, Sufi Agung itu mengajukan lagi sesorang yang melanjutkan pertanyaan sebelumnya.

Harapan itu baik. Tetapi, apa gunanya rasa takut?

Bhisma semakin larut dalam ketakjuban. Pertanyaan itu, lagi-lagi, sama dan sebangun dengan apa yang ada di benaknya.

Rumi pun menjawab.

Tunjukan kepadaku rasa takut tanpa harapan atau harapan tanpa rasa takut. Selamanya keduanya tidak bisa dipisahkan satu sama lain. Kenapa kau bertanya seperti itu?

Sepertinya tak perlu lagi Bhisma membaca uraian panjang Rumi atas pernyataannya itu. Ia mulai menyimpulkan sendiri. Harapan dan takut, bagi Bhisma, seperti dua sisi keping mata uang. Sesorang berharap sesuatu tentu sekaligus khawatir tidak mendapatkan sesuatu. Begitu juga sebaliknya. Ia takut akan sesuatu tentu dengan harapan terhindar dari yang ditakutinya itu.

Mungkin iman itu layaknya burung dengan dua sayap. Sayap yang satu harapan, sayap satunya lagi takut.

Wuiih, Bhisma menjadi lebih berani. Ia mulai bermetafora sendiri. Sudah seperti Rumi saja anak muda itu.

Halaman-halaman selanjutnya dalam Fihi Ma Fihi, membawa pikiran Bhisma terbang membumbung tinggi seperti menyentuh langit. Ia harus bekerja keras untuk mengembalikan pikiran itu mendekat kembali ke kamarnya di bumi. Harus dipaksa, memang.

Wajah Wak Salim kemudian muncul lagi ketika Bhisma mengistirahatkan sejenak syaraf-syaraf di otaknya. Lelaki tua itu duduk bersandingan dengan Rumi. Ia jadi bertanya-tanya apakah ada benang merah yang menghubungkan seorang Wak Salim dengan Sufi Agung itu?

Jangan-jangan ada hubungannya ‘ketertundukan’ Wak Salim saat berjalan dengan Rumi?”

Bhisma mengendapkan rasa keingintahuannya itu. Rumi juga yang mengingatkan. Seakan tahu isi kepala Bhisma yang sebenarnya masih berkehendak untuk terus mencari tahu, Rumi seperti menasehati lewat sederet puisinya.

Berhentilan bicara! Dan jika kepalamu gatal untuk bicara, kesabaran akan menjadi sisir yang bagus untuk rambut keritingmu!

Seperti menuruti perintah Rumi, Bhisma menutup buku Fihi Ma Fihi dan merebahkan badan ke ranjang. Tak lama, anak muda itu terlelap dengan dengkuran cukup keras. Itulah tanda-tanda kelelahan. (bersambung)

*****

BACA JUGA: WAK SALIM: Lelaki Yang Berjalan Menunduk (4)

BACA JUGA: WAK SALIM: Lelaki Yang Berjalan Menunduk (3)

WAK SALIM: Lelaki Yang Berjalan Menunduk (2)

WAK SALIM: Lelaki Yang Berjalan Menunduk (1)




Klik Untuk Berkomentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Berita Terpopuler

To Top