Desember 3, 2022

Review Bekasi

Temukan Berita & berita utama terbaru tentang INDONESIA. Dapatkan informasi lebih lanjut tentang INDONESIA

Perusahaan makanan baru di Indonesia: Tidak ada solusi makanan cepat saji

Administrasi kebijakan pangan Indonesia telah menerima dorongan potensial dari pembentukan Badan Pangan Nasional (NFA) baru, tetapi tantangan besar terbentang di depan ketika pemimpin NFA menemukan cara untuk memberi makan negara terpadat keempat di dunia dalam menghadapi guncangan eksternal yang berkembang. Bahan makanannya.

Kritikus terhadap administrasi kebijakan pangan Indonesia mengeluhkan kurangnya koordinasi akibat kebijakan dan rencana yang tidak konsisten, kurangnya data yang berkualitas dan konflik kepentingan di antara berbagai pemangku kepentingan. Naiknya harga pangan dan kelangkaan pasokan di banyak bagian negara yang disebabkan oleh epidemi Pemerintah-19 dan guncangan eksternal yang telah mengganggu rantai pasokan pangan global telah menempatkan administrasi kebijakan pangan Indonesia kembali menjadi sorotan. Badan Pangan Nasional (NFA) baru-baru ini didirikan Peraturan Presiden No. 66 (2021)Ini bisa menjadi cara untuk menangani masalah kompleks yang mempengaruhi sektor ini.

Pada 21 Februari 2022, Presiden Joko Widodo Dimulai Arief Prasetyo Adi sebagai Presiden NFA. Badan tersebut bertanggung jawab langsung kepada Presiden dan misi utamanya adalah mengkoordinasikan kebijakan dan program pangan di berbagai kementerian dan lembaga. NFA akan mengkoordinasikan, mengembangkan dan melaksanakan kebijakan ketersediaan pangan, stabilisasi harga dan manajemen stok, perlindungan nutrisi, diversifikasi dan perlindungan. Namun, NFA menghadapi tantangan yang kompleks. Dalam wawancara online baru-baru ini dengan editor, Adi mengatakan bahwa menjaga ketahanan pangan Indonesia dan mengelola konflik kepentingan seperti ‘orang yang mengambil keuntungan dari kesenjangan impor’ harus dimungkinkan.

NFA memiliki setidaknya tiga jalan untuk meningkatkan koordinasi kebijakan pangan dan mengelola konflik kepentingan, tetapi kemungkinan akan menghadapi tantangan berat tanpa dukungan politik yang kuat dari presiden dan partisipasi pemangku kepentingan lainnya.

Pertama, NFA berupaya meningkatkan kualitas dan transparansi data distribusi pangan di Indonesia. Meskipun penting untuk memprioritaskan produksi pangan dalam negeri, Adi mengakui bahwa Indonesia harus ‘jujur ‚Äč‚Äčtentang kekurangan pangan’ dan mengizinkan impor jika diperlukan. NFA bertanggung jawab untuk meningkatkan basis data pasokan makanan melalui Sistem Neraca Komoditas pemerintah federal.Sistem Komoditas Neroga Nasional) Selain bahan-bahan dasar seperti beras dan gula, NFA telah memperluas daftarnya untuk memasukkan bahan-bahan penting lainnya seperti kedelai, telur dan cabai. Perluasan database ini dilakukan bersama Kementerian Perpajakan, Badan Pusat Statistik dan pihak swasta. NFA juga telah mengembangkan sistem pemantauan stok dan harga pangan bekerja sama dengan pemerintah daerah. Data terintegrasi ini akan memungkinkan NFA untuk membuat keputusan kebijakan mengenai impor dan ekspor pangan.

NFA memiliki setidaknya tiga jalan untuk meningkatkan koordinasi kebijakan pangan dan mengelola konflik kepentingan, tetapi kemungkinan akan menghadapi tantangan berat tanpa dukungan politik yang kuat dari presiden dan partisipasi pemangku kepentingan lainnya.

Kedua, Bapak Adi berencana untuk mengkhususkan diri dalam proses pengambilan keputusan dan sumber daya manusia dalam pengelolaan makanan. Peraturan Presiden No. Berdasarkan 22 (2021), staf di NFA sebagian besar akan berasal dari staf yang sudah bekerja di Divisi Ketahanan Pangan Kementerian Pertanian. Namun, NFA berencana untuk meningkatkan kapasitas staf di setiap divisi untuk menjalankan tugasnya secara efektif dan efisien. Pak Adi mungkin orang yang tepat untuk pekerjaan itu. Berasal dari sektor swasta, ia berhasil mereformasi perusahaan milik pemerintah Jakarta Restoran PT Djipinang dengan memprofesionalkan proses bisnis dan sumber daya manusianya. Sebelum memimpin NFA, ia menjalankan perusahaan makanan milik negara bernama ID Food Holdings, yang berhasil membawa tujuh perusahaan makanan milik negara terbesar di Indonesia di bawah satu perusahaan. Dengan proses pengambilan keputusan yang sangat profesional dan sumber daya manusia yang canggih, NFA dapat mengurangi konflik kepentingan dalam bisnis makanan Indonesia. Tantangan juga mencakup bagaimana posisi puncak tertentu di lembaga atau kementerian pangan tertentu diisi oleh pejabat politik dengan kepentingan pribadi yang merumuskan kebijakan yang menguntungkan mereka karena kurangnya pengawasan dan transparansi.

READ  S'pore, Kemitraan Perubahan Iklim Indonesia untuk mengejar tujuan termasuk Dana Hijau

Ketiga, NFA akan merancang rencana strategis (‘Renstra’ atau Strategi Renkana) Termasuk pemangku kepentingan lainnya, termasuk sektor swasta. Sebelum merancang renstra ini, NFA terlebih dahulu akan menyinkronkan roadmap yang ada dengan tujuan strategis kementerian dan lembaga yang bekerja sama dengan NFA. Ini termasuk BUMN, kementerian pertanian, perdagangan, IT food holding, bullock (perusahaan logistik nasional), perusahaan milik pemerintah daerah dan asosiasi, dan komunitas lainnya. Setelah itu, NFA akan membuat sebuah Renstra yang akan mencakup seluruh rantai pasok pangan dari hulu hingga hilir. Misalnya, rencana pemerintah untuk perkebunan pertanian skala besar baru (berfokus pada produksi) Kementerian Pertahanan Berkoordinasi dengan proyek pasca panen di luar pertanian, termasuk teknologi pasca panen, untuk mengurangi limbah makanan dan penurunan kualitas, dan untuk menstandarisasi produk makanan.

Terlebih lagi, krisis minyak goreng menunjukkan perlunya melibatkan sektor swasta dalam kebijakan pengelolaan pangan Indonesia secara keseluruhan. Seperti yang dicatat oleh Bapak Adi, pemerintah sendiri ‘tidak dapat mengatasi kekurangan pangan, dan pemerintah juga tidak boleh mengelola stok pangan secara mandiri.’ Partisipasi aktif dan kerja sama semua pemangku kepentingan merupakan landasan penting bagi Pemerintah Indonesia untuk ‘memastikan pola makan yang inklusif, tangguh, dan berkelanjutan’.

Selain ketiga strategi tersebut di atas, NFA berencana meningkatkan jatah pangan nasional dari beras menjadi sebelas bahan pangan. Hal ini membutuhkan koordinasi kebijakan dan proyek yang efektif dengan berbagai pemangku kepentingan, termasuk Bullock, yang mengelola stok beras nasional. Bullock beroperasi di bawah NFA.

NFA perlu mengubah dan memperbarui strategi dan kebijakannya. Karena guncangan eksternal rantai pasokan pangan global saat ini dapat memicu kebijakan proteksionis di tempat lain, NFA harus mengelola dan memprioritaskan pangan yang terjangkau dan dapat diakses oleh masyarakat Indonesia untuk mencapai swasembada dalam jangka pendek dan menengah. Menurut studi Bank Dunia yang belum dirilis, seperempat dari sekitar 70 juta rumah tangga Indonesia akan menghadapi kekurangan pangan pada Oktober 2021, sedikit lebih dari lima poin persentase dari masa pra-epidemi, seringkali karena kerawanan pangan. Mengatasi masalah ini adalah tugas penting dari NFA, dan tidak dapat melakukan trik.

READ  Puncak Kembar Indonesia

2022/136