Juni 24, 2026

Review Bekasi

Temukan Berita & berita utama terbaru tentang INDONESIA. Dapatkan informasi lebih lanjut tentang INDONESIA

Investasi Swasta di Sektor Sapi Meningkat, Kendala Lahan Hambat Peningkatan Pasokan Nasional

Investasi Swasta di Sektor Sapi Meningkat, Kendala Lahan Hambat Peningkatan Pasokan Nasional

Jakarta — Investasi sektor swasta di industri peternakan sapi di Indonesia mulai menunjukkan peningkatan dalam beberapa tahun terakhir. Namun, laju ekspansi tersebut masih belum sesuai harapan pemerintah karena terbentur keterbatasan lahan dan sejumlah kendala struktural lain. Kondisi ini turut mempersulit upaya Indonesia untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor daging sapi dan susu.

Realisasi Investasi Belum Capai Target

Data Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian mencatat, hingga 31 Desember 2025 terdapat 136 investor swasta yang telah berkomitmen menanamkan investasi sebesar Rp3,29 triliun. Investasi tersebut digunakan untuk mendatangkan 32.108 ekor sapi perah dan sapi potong guna meningkatkan produksi dalam negeri.

Meski demikian, realisasi ini masih di bawah target pemerintah untuk 2025. Pemerintah sebelumnya menargetkan impor 48.754 ekor sapi perah dan 52.594 ekor sapi potong dengan melibatkan jumlah investor yang lebih besar.

Dari total realisasi, sebanyak 12.052 ekor merupakan sapi perah yang diimpor oleh 62 investor, sementara 20.056 ekor sapi potong berasal dari 74 investor.

Kesenjangan Pasokan Masih Tinggi

Indonesia masih menghadapi defisit pasokan yang cukup besar, baik untuk daging sapi maupun susu segar. Produksi daging sapi dan kerbau nasional pada 2025 tercatat sebesar 0,43 juta ton, sementara kebutuhan mencapai hampir dua kali lipat. Artinya, terdapat defisit sekitar 0,39 juta ton atau sekitar 48 persen dari total kebutuhan nasional.

Situasi serupa terjadi pada komoditas susu. Produksi susu segar dalam negeri hanya mencapai 0,82 juta ton, jauh dari kebutuhan yang menyebabkan kekurangan hingga 3,9 juta ton atau setara 82 persen.

Kondisi ini membuat Indonesia masih sangat bergantung pada impor, baik dalam bentuk daging beku maupun produk olahan susu. Di tingkat konsumen, ketergantungan ini juga berdampak pada fluktuasi harga, terutama menjelang hari besar seperti Ramadan dan Idul Fitri.

Peran Swasta Semakin Didorong

Dengan keterbatasan anggaran negara, pemerintah kini semakin mendorong keterlibatan sektor swasta untuk menutup kesenjangan produksi.

“Karena keterbatasan anggaran pemerintah, saat ini kami mendorong investor untuk mengembangkan usaha sapi perah dan sapi potong di Indonesia,” ujar Direktur Perbibitan dan Produksi Ternak Kementerian Pertanian, Hary Suhada.

Langkah ini sejalan dengan strategi pemerintah dalam memperkuat ketahanan pangan nasional, yang juga menjadi salah satu agenda prioritas pembangunan.

Kendala Lahan Jadi Tantangan Utama

Salah satu hambatan terbesar dalam realisasi investasi adalah ketersediaan lahan yang siap digunakan. Meskipun pemerintah telah mengidentifikasi sekitar 1,7 juta hektare lahan potensial untuk pengembangan peternakan, sebagian besar lahan tersebut belum memenuhi kriteria “clean and clear”.

“Masalah utama adalah ketersediaan lahan, khususnya lahan yang sudah siap pakai. Dari 1,7 juta hektare yang teridentifikasi, investor belum bisa masuk sepenuhnya karena lahannya belum layak,” kata Hary.

Akibatnya, pemanfaatan lahan masih terbatas pada area yang sudah siap, yang berdampak langsung pada rendahnya realisasi impor sapi dibanding target awal.

Strategi Pemerintah dan Target Jangka Menengah

Untuk mengatasi kendala tersebut, pemerintah tengah menyiapkan Instruksi Presiden dalam kerangka Program Percepatan Produksi Susu dan Daging Sapi Nasional (P2SDN). Program ini diharapkan dapat mempercepat penyediaan lahan sekaligus memperkuat koordinasi lintas sektor.

Dalam jangka menengah, pemerintah menargetkan investasi sebesar Rp228,66 triliun pada periode 2025–2029. Investasi ini mencakup pengadaan hampir 1 juta ekor sapi perah dan lebih dari 577 ribu ekor sapi potong melalui skema mandiri maupun kemitraan.

Peningkatan Produktivitas Jadi Kunci

Selain menambah populasi ternak, peningkatan produktivitas juga menjadi fokus utama. Kepala Pusat Riset Peternakan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Santoso, menekankan pentingnya program pemuliaan dan perbaikan genetik.

“Program breeding dan peningkatan genetik merupakan strategi kunci untuk meningkatkan performa produksi sapi perah secara berkelanjutan,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa metode seperti progeny testing, yakni evaluasi kualitas genetik induk berdasarkan keturunannya, dapat mempercepat peningkatan produktivitas dalam jangka panjang. Namun, hal ini memerlukan dukungan sistem data yang kuat serta implementasi yang konsisten.

Kolaborasi Jadi Penentu Keberhasilan

Keberhasilan program pengembangan peternakan sapi nasional tidak hanya bergantung pada investasi, tetapi juga koordinasi antara berbagai pihak. Pemerintah, peneliti, pelaku industri, hingga peternak rakyat perlu bekerja secara terintegrasi.

Menurut Santoso, kolaborasi ini akan berdampak pada peningkatan produksi susu nasional, penguatan industri peternakan, serta kesejahteraan ternak yang lebih baik.

Kesimpulan

Meningkatnya investasi swasta di sektor peternakan sapi menjadi sinyal positif bagi upaya Indonesia mencapai swasembada daging dan susu. Namun, tantangan mendasar seperti keterbatasan lahan dan rendahnya produktivitas masih perlu diatasi secara sistematis. Tanpa pembenahan struktural dan koordinasi yang kuat, target ambisius pemerintah berpotensi sulit tercapai dalam waktu dekat.