Perusahaan penyulingan milik negara, Pertamina, telah menambahkan grade minyak Rusia ke dalam daftar tendernya untuk pembelian minyak mentah bulan September, kata tiga pedagang pada hari Senin.
Pertamina sudah bertahun-tahun tidak membeli minyak Rusia, mengambil langkah mundur sejak konflik militer Rusia-Ukraina dimulai pada tahun 2022, meskipun Indonesia belum mengikuti sanksi Barat terhadap Rusia.
Pertamina terakhir kali membeli campuran ESPO dan minyak Sokol dari Rusia 10 tahun lalu, menurut data LSEG.
Sanksi Barat terhadap sektor energi Rusia, termasuk embargo Uni Eropa terhadap minyak dan mekanisme pembatasan harga, telah menjadikan Tiongkok, India, dan Turki sebagai pembeli utama minyak Rusia.
September. Pertamina meminta minyak Ural Rusia beserta grade asam Kirkuk, Jubilee, Al Shakeen dan lainnya tiba di Kilang Cilacap pada 15-17.
September. Sokol meminta Pertamina, Azeri PTC, El Sharara, Kwa Ibo dan varietas minyak manis lainnya tiba di Silacap pada 18-20. Menurut tender, Sokol harus diserahkan berdasarkan persyaratan CFR atau only on port (DAP).
Sumber mengatakan salah satu tender ditutup minggu lalu dan yang lainnya pada hari Senin. Hasilnya belum diumumkan.
Salah satu sumber yang mengetahui rencana Pertamina mengatakan perusahaan hanya bisa membeli minyak Rusia jika dijual berdasarkan peraturan batasan harga.
Batasan tersebut memungkinkan eksportir dan perusahaan asuransi Barat untuk berpartisipasi dalam perdagangan minyak Rusia jika harga minyak dijual kurang dari US$60 per barel.
Juru bicara divisi pengilangan Pertamina mengatakan pada hari Selasa bahwa perusahaan akan membeli minyak mentah yang memenuhi spesifikasi pengilangannya dengan tetap mematuhi semua peraturan terkait.
“Jika minyak mentah dibeli dari Rusia, maka akan dilakukan berdasarkan mekanisme price cap,” kata juru bicara Hermansya Nasron.

“Penggemar budaya pop. Pengacau ramah hipster. Pakar media sosial yang menawan.”

More Stories
Peretas Menyamar sebagai Pemasang Platform Pemrograman untuk Sebarkan Perangkat Lunak Pencuri Data
Energi dan Kecerdasan Buatan Jadi Pilar Baru Hubungan Indonesia-Korea Selatan
172,9 Juta Kendaraan di Indonesia, UGM Dorong Solusi Lalu Lintas Berbasis AI