Juli 16, 2026

Review Bekasi

Temukan Berita & berita utama terbaru tentang INDONESIA. Dapatkan informasi lebih lanjut tentang INDONESIA

Nanopartikel Berlapis Gula Berhasil Mengecilkan Tumor Otak Mematikan pada Tikus

Nanopartikel Berlapis Gula Berhasil Mengecilkan Tumor Otak Mematikan pada Tikus

Glioblastoma dikenal sebagai salah satu jenis kanker otak paling agresif dan mematikan. Penyakit ini sangat sulit diobati karena pertumbuhannya yang cepat serta kemampuannya menyebar ke jaringan otak di sekitarnya. Meski pasien telah menjalani operasi, radioterapi, dan kemoterapi, tingkat kelangsungan hidup masih rendah, dengan kurang dari 30 persen pasien bertahan hidup dua tahun setelah diagnosis.

Kini, tim peneliti dari Oregon State University menemukan pendekatan baru yang berpotensi meningkatkan efektivitas terapi glioblastoma. Dalam penelitian terbaru yang dilakukan pada tikus, mereka mengembangkan nanopartikel berlapis gula yang mampu menembus sawar darah-otak dan secara langsung menargetkan sel kanker.

Hasil penelitian tersebut dipublikasikan dalam jurnal Journal of Controlled Release.

Mannosa Membantu Nanopartikel Menembus Sawar Darah-Otak

Salah satu tantangan terbesar dalam pengobatan penyakit otak adalah keberadaan sawar darah-otak. Struktur alami ini berfungsi melindungi otak dari zat berbahaya yang beredar dalam darah, tetapi juga membuat banyak obat sulit mencapai jaringan otak.

Untuk mengatasi masalah tersebut, para peneliti melapisi nanopartikel dengan mannosa, sejenis gula yang memiliki kemiripan dengan glukosa. Baik glukosa maupun mannosa dapat melewati sawar darah-otak melalui molekul pengangkut yang disebut GLUT1, yang bertugas membawa sumber energi ke otak.

Menurut ilmuwan farmasi Oleh Taratula, darah mengandung konsentrasi glukosa yang cukup tinggi sehingga nanopartikel harus bersaing dengan glukosa untuk dapat dikenali oleh GLUT1. Karena itu, nanopartikel perlu memiliki lapisan gula yang sangat padat agar lebih mudah menarik perhatian molekul pengangkut tersebut.

Kolesterol Menjadi Kunci Inovasi

Tim peneliti menghubungkan mannosa dengan kolesterol yang menjadi bahan dasar utama nanopartikel. Pendekatan ini memungkinkan lebih banyak molekul gula menempel pada setiap nanopartikel sehingga meningkatkan peluangnya dikenali oleh GLUT1.

Dalam uji coba pada tikus, nanopartikel berlapis gula mampu mencapai otak 9,9 kali lebih efektif dibandingkan nanopartikel tanpa lapisan gula.

Menargetkan Sel Kanker yang Membutuhkan Banyak Gula

Keunggulan teknologi ini tidak berhenti setelah nanopartikel berhasil masuk ke otak. Sel glioblastoma diketahui memiliki kebutuhan energi yang sangat tinggi dan menyerap gula dalam jumlah besar untuk mendukung pertumbuhannya.

Akibatnya, nanopartikel yang dilapisi mannosa cenderung terkumpul di area tumor. Di lokasi tersebut, nanopartikel mengirimkan muatan berupa RNA pembawa pesan atau mRNA, yaitu instruksi genetik yang mendorong sel kanker kembali memproduksi protein penekan tumor bernama PTEN.

Menurut ilmuwan pengantaran obat Olena Taratula, glioblastoma mengalami perubahan metabolisme yang membuat ekspresi GLUT1 mencapai tiga kali lebih tinggi dibandingkan jaringan otak normal. Kondisi ini menyebabkan nanopartikel lebih banyak terakumulasi di jaringan tumor setelah melewati sawar darah-otak.

Ia menjelaskan bahwa pemulihan ekspresi PTEN pada sel tumor membantu mengembalikan kontrol pertumbuhan sel. Dalam pemberian dosis berulang, penyusutan tumor terjadi tanpa ditemukan tanda-tanda kerusakan yang terukur pada organ utama tubuh.

Tumor Menyusut Drastis pada Tikus

Hasil penelitian menunjukkan dampak yang sangat signifikan. Pada kelompok tikus yang tidak menerima pengobatan, rata-rata tumor menempati sekitar 52 persen area otak setelah 28 hari.

Sementara itu, pada tikus yang menerima terapi nanopartikel berlapis gula, beban tumor turun drastis menjadi rata-rata hanya 2,3 persen.

Peningkatan juga terlihat pada angka kelangsungan hidup. Waktu kelangsungan hidup median meningkat dari 33 hari pada kelompok tanpa pengobatan menjadi 49 hari pada kelompok yang mendapatkan terapi.

Meski belum mampu menyembuhkan kanker sepenuhnya, hasil tersebut menunjukkan peningkatan yang berarti dibandingkan kondisi tanpa pengobatan.

Berpotensi Digunakan untuk Berbagai Penyakit Otak

Para peneliti mengingatkan bahwa penelitian ini masih berada pada tahap awal karena seluruh pengujian dilakukan pada tikus. Diperlukan penelitian lanjutan untuk mengetahui apakah pendekatan yang sama dapat bekerja dengan aman dan efektif pada manusia.

Namun, temuan ini memberikan harapan baru dalam pengembangan terapi kanker otak. Dalam beberapa tahun terakhir, berbagai pendekatan inovatif mulai menunjukkan hasil menjanjikan dalam melawan glioblastoma, termasuk terapi yang menghambat jalur pertumbuhan tumor dan metode yang meningkatkan respons sistem kekebalan tubuh terhadap kanker.

Menariknya, teknologi nanopartikel berlapis mannosa ini berpotensi digunakan tidak hanya untuk glioblastoma. Para peneliti menilai metode tersebut dapat menjadi platform umum untuk mengirimkan terapi berbasis mRNA ke otak, termasuk untuk berbagai gangguan neurologis lain yang memerlukan pengobatan langsung pada jaringan otak.

Tim peneliti menyatakan bahwa strategi fungsionalisasi berkepadatan tinggi berbasis kolesterol ini dapat menjadi platform yang dapat diterapkan secara luas untuk terapi mRNA yang menargetkan otak. Temuan tersebut juga menunjukkan bahwa nanopartikel lipid berbasis mannosa dan kolesterol memiliki potensi besar sebagai sarana terapi glioblastoma berbasis mRNA serta berbagai gangguan neurologis lain yang membutuhkan intervensi pengobatan di otak.

Harapan Baru bagi Pasien Kanker Otak

Meski masih memerlukan pengujian lebih lanjut pada manusia, penelitian ini menunjukkan bahwa nanopartikel berlapis mannosa mampu mengatasi dua tantangan sekaligus, yaitu menembus sawar darah-otak dan menargetkan sel kanker secara spesifik. Jika hasil serupa dapat direplikasi dalam studi klinis di masa depan, teknologi ini berpotensi membuka jalan bagi terapi yang lebih efektif untuk glioblastoma dan berbagai penyakit otak lainnya.