Juni 24, 2026

Review Bekasi

Temukan Berita & berita utama terbaru tentang INDONESIA. Dapatkan informasi lebih lanjut tentang INDONESIA

Komet Antarbintang 3I/ATLAS Ternyata Sudah Tertangkap Kamera Sebelum Resmi Ditemukan

Komet Antarbintang 3I/ATLAS Ternyata Sudah Tertangkap Kamera Sebelum Resmi Ditemukan

Para astronom menemukan bahwa komet antarbintang 3I/ATLAS sebenarnya sudah terekam dalam citra observasi beberapa hari sebelum penemuannya diumumkan secara resmi. Temuan ini membuka peluang baru bagi dunia astronomi modern dalam mendeteksi objek asing yang melintas di tata surya lebih cepat dari sebelumnya.

Rubin Observatory Hampir Menjadi Penemu Pertama

Komet antarbintang 3I/ATLAS resmi diidentifikasi pada 1 Juli 2025 oleh jaringan teleskop robotik Asteroid Terrestrial-impact Last Alert System (ATLAS) yang beroperasi di Hawaii, Chile, dan Afrika Selatan. Namun, penelitian terbaru menunjukkan bahwa Observatorium Vera C. Rubin di Chile sebenarnya telah merekam objek tersebut sejak 20 Juni 2025.

Observatorium Rubin saat itu baru memasuki fase validasi sains, yakni tahap pengujian dan kalibrasi teleskop utama berdiameter 8,4 meter beserta instrumennya sebelum beroperasi penuh. Karena itu, data pengamatan awal belum diproses melalui sistem otomatis yang biasanya digunakan astronom.

Tim peneliti yang dipimpin Colin Orion Chandler dari University of Washington kemudian menelusuri ulang data pengujian tersebut. Hasilnya, mereka menemukan bahwa 3I/ATLAS muncul dalam gambar percobaan pertama yang diambil Rubin, sekitar 10 hari sebelum deteksi resmi oleh ATLAS.

Tantangan Mengolah Data Awal Observatorium

Proses pencarian ini tidak mudah. Pada tahap validasi, Rubin belum memiliki “pipeline” atau sistem pemrosesan data otomatis yang siap digunakan. Tim Chandler harus membuat sistem pemrosesan khusus untuk mengakses dan menganalisis data mentah observatorium.

Menurut Chandler, jika fase validasi Rubin dimulai beberapa minggu lebih awal, besar kemungkinan observatorium tersebut akan menjadi pihak pertama yang menemukan komet antarbintang ini. Dalam skenario itu, nama objek kemungkinan bisa berubah menjadi 3I/Rubin.

Penelitian juga menunjukkan bahwa Rubin memotret 3I/ATLAS sebanyak sembilan kali antara 21 Juni hingga 2 Juli 2025, lalu beberapa kali lagi hingga 20 Juli.

Aktivitas Komet Sudah Terlihat Sejak Awal

Citra yang dikumpulkan Rubin memperlihatkan bahwa 3I/ATLAS sudah aktif bahkan sebelum ditemukan secara resmi. Astronom melihat adanya koma, yaitu awan gas dan debu yang menyelimuti inti komet ketika permukaannya mulai memanas akibat mendekati Matahari.

Fenomena ini penting karena membantu ilmuwan memahami komposisi dan perilaku objek antarbintang yang berasal dari luar tata surya. Hingga kini, jumlah objek antarbintang yang pernah terdeteksi masih sangat sedikit, sehingga setiap pengamatan baru memiliki nilai ilmiah besar.

Rubin Observatory Diprediksi Temukan Banyak Komet Baru

Observatorium Vera C. Rubin memang dirancang untuk melakukan survei langit skala besar melalui proyek Legacy Survey of Space and Time selama 10 tahun. Dalam periode itu, observatorium diperkirakan mampu menemukan hingga 10.000 komet baru.

Deteksi dini terhadap 3I/ATLAS menjadi sinyal positif bahwa Rubin kemungkinan dapat menemukan rata-rata satu komet antarbintang setiap tahun. Ini penting bagi komunitas astronomi global, termasuk peneliti di Asia dan Indonesia yang semakin aktif terlibat dalam observasi astronomi modern.

Misi Antariksa Jupiter Ikut Mengamati 3I/ATLAS

JUICE dan Europa Clipper Lakukan Observasi Bersama

Meski kini bergerak menjauhi wilayah dalam tata surya, 3I/ATLAS masih terus diamati berbagai wahana antariksa. Salah satu pengamatan penting dilakukan oleh dua misi menuju Jupiter, yakni JUICE milik European Space Agency (ESA) dan Europa Clipper milik NASA.

Kedua wahana tersebut menggunakan instrumen Ultraviolet Spectrograph (UVS) untuk mengamati komet pada akhir 2025, terutama ketika objek itu sulit terlihat dari Bumi karena berada di balik Matahari saat mencapai perihelion atau titik terdekat dengan Matahari.

Menurut Kurt Retherford dari Southwest Research Institute (SwRI), posisi komet yang berada di antara kedua wahana memungkinkan pengamatan dari dua sisi berbeda secara bersamaan.

JUICE mengamati sisi siang komet, sedangkan Europa Clipper merekam sisi malamnya. Pendekatan ini membantu ilmuwan mempelajari emisi gas dari berbagai arah.

Kandungan Karbon Tinggi Jadi Sorotan

Instrumen UVS mendeteksi unsur hidrogen, oksigen, dan karbon yang terbentuk ketika gas dari inti komet terkena sinar ultraviolet Matahari lalu terpecah menjadi atom-atom penyusunnya.

Menariknya, kadar karbon pada 3I/ATLAS ditemukan lebih tinggi dibanding komet asli tata surya. Temuan ini memperkuat hasil observasi sebelumnya dari James Webb Space Telescope yang mendeteksi kandungan karbon dioksida berlebih pada komet tersebut.

Peneliti SwRI, Philippa Molyneux, mengatakan bahwa perbandingan antara es air dan es karbon dioksida dapat membantu ilmuwan memahami apakah sistem bintang asal 3I/ATLAS memiliki karakteristik mirip tata surya atau justru sangat berbeda.

Komet Purba Berusia Miliaran Tahun

Data terbaru menunjukkan bahwa inti 3I/ATLAS memiliki diameter sekitar satu kilometer. Kecepatan lajunya mencapai sekitar 140.000 mil per jam atau sekitar 61 kilometer per detik.

Kecepatan ekstrem itu membuat ilmuwan menduga komet ini berusia setidaknya tujuh miliar tahun dan mungkin mencapai 12 miliar tahun. Selama perjalanannya, objek tersebut diyakini telah mengalami banyak interaksi gravitasi dengan bintang lain yang meningkatkan kecepatannya.

Penemuan dan pengamatan mendalam terhadap 3I/ATLAS menjadi tonggak penting dalam studi objek antarbintang. Dengan hadirnya observatorium generasi baru seperti Vera C. Rubin serta dukungan berbagai misi luar angkasa, peluang memahami asal-usul benda asing dari luar tata surya kini semakin terbuka lebar.