Melestarikan Budaya ala Al Kausar Boarding School | Berita dan Review Bekasi Terkini - reviewbekasi.com
Sekolah & Kursus

Melestarikan Budaya ala Al Kausar Boarding School

http://reviewbekasi.com/wp-content/uploads/2018/11/AL-KAUSAR-ALKA-NYUNDA.jpg
Salah satu kegiatan Alka Nyunda 2018/www.alkausar.sch.id

REVIEW, Bekasi — Jerih payah berlatih sekitar 6 bulan lamanya terbayar sudah. Siswa-siswi Al Kausar Boarding School dengan berbagai pilihan kesenian menampilkan kebolehan mereka di depan khalayak bertepatan dengan peringatan Hari Guru, Minggu 25 November 2018.

Di hadapan para rekan-rekannya, para guru, orang tua, manajemen dan pembina Yayasan Al Kausar, para siswa itu tampil mempertontonkan kemampuan di atas pentas bertajuk Festival Budaya Indonesia (FBI).

Senyum semringah terlihat di wajah para guru dan manajemen Al Kausar melihat para anak didiknya beraksi menampilkan seni budaya Indonesia. Bagaimana tidak?

Melestarikan budaya lokal menjadi salah satu pekerjaan besar bagi lembaga pendidikan di tengah era membludaknya informasi—termasuk serbuan budaya—saat ini. Generasi milenial, salah satu ciri paling menonjolnya adalah amat akrab dengan dunia maya dan gawai, menjadi kelompok paling rentan menghadapi serbuan budaya dari luar itu.

Tugas berat melestarikan budaya lokal itu disadari benar oleh pengelola Al Kausar, lembaga pendidikan yang berlokasi di kaki Gungun Salak, Parung Kuda, Sukabumi. Kompleks pendidikan yang diberi nama Kampus Al Kausar Boarding School dibangun sejak 1997 dengan mengusung jargon, “Mengasah Akal dan Membina Budi”.

FBI memang menjadi salah satu pendekatan yang memang dirancang serius oleh pengelola Al Kausar. Pada pentas tersebut, para siswa memperlihatkan ketrampilan seni mereka antara lain marawis (untuk kelas 10 dan 11), band (kelas 11), Tari Saman (campuran, peserta kegiatan ekstrakurikuler Tari Saman), paduan suara ekstrakurikuler vokal yang menyanyikan lagu Sunda Manuk Dadali, dan drama oleh peserta ekstrakurikuler drama yang membawakan cerita asal Jawa Barat.

Para ‘penduduk’ Al Kausar Boarding School yang mengikuti cabang seni melukis, kaligrafi, maupun fotografi pun diberi ruang untuk menampilkan hasil karya mereka di ruang pameran. Para pengunjung bisa melihat hasil karya mereka ini sesaat sebelum memasuki auditorium, tempat FBI digelar.

Dalam sambutannya, Headmaster Al Kausar Supriyatin M.Pd. mengungkapkan kebahagiaannya, karena kegiatan OSIS di Al Kausar setiap tahun selalu berkembang dan mengahadirkan konsep acara yang baru. Berbekal evaluasi periode sebelumnya, yang sudah baik dipertahankan dan terus ditingkatkan.

Menurut Supriyatin, hal itu menjadi indikasi bahwa salah satu modal untuk menjadi pemimpin pada masa depan sudah dimiliki siswa Al Kausar, yakni selalu berinovasi dan mengembangkan kreativitas.

“Selain itu, rasa hormat kepada para guru juga menunjukkan akhlak seorang pemimpin yang telah dimiliki siswa Al Kausar. Jiwa entreprenurship juga mulai diasah dengan diselenggarakannya kegiatan market day yang dilaksanakan secara bersamaan dengan agenda FBI dan peringatan Hari Guru Nasional,” ungkap Supriyatin dalam siaran pers yang diperoleh REVIEW.

Oleh karena bertepatan dengan Hari Guru, pada penghujung acara, secara serempak siswa-siswi Al Kausar menyerahkan bunga tanda kasih dan cinta mereka kepada segenap guru. Tak ketinggalan secara khusus bunga berukuran besar diserahkan kepada Bunda Yayuk yang selama ini telah menunjukkan dedikasinya terhadap pendidikan di lembaga pendidikan itu.

Pengelola Al Kausar memang harus berpikir keras dan terus melakukan inovasi agar program-program di lembaga pendidikan itu yang terkait dengan pelestarian budaya lokal bisa diterima dan dinikmati para siswa.

http://reviewbekasi.com/wp-content/uploads/2018/11/AL-KAUSAR.jpg

Selain FBI, salah satu pendekatan yang memang dirancang serius oleh pengelola Al Kausar untuk melestarikan budaya lokal, Sunda, adalah melalui Alka Nyunda. Kegiatan tahunan itu disusun menjadi model pembelajaran Bahasa & Budaya Sunda bagi siswa-siswi kelas 7, 8, 9, dan 10. Pada semester pertama, mata pelajaran Sunda menitikberatkan pada siswa-siswi untuk mengenal ragam budaya Sunda mulai dari bahasa hingga seni dan permainan tradisional.

Untuk tahun ini, Alka Nyunda 2018 dilaksanakan pada Kamis 22 November 2018 yang diikuti oleh 94 siswa dan 68 siswi dari kelas 7 hingga kelas 10 didampingi oleh 20 guru. Dengan berbagai kreativitasnya, siswa dan siswa berhasil memukau hadirin terutama guru-guru pendamping. Cara mereka memperkenalkan diri yang dibumbui dengan bahasa Sunda cukup unik dan menarik, justru karena mayoritas siswa bukan berasal dari Jawa Barat.

Panitia yang sekaligus penanggungjawab mata pelajaran Bahasa Sunda mengemas acara tersebut dengan berbagai macam bentuk, di antaranya adalah lomba lomba permainan tradisional (sondah, sorodot gaplok, & bakiak), lomba bahasa (menyusun kalimat & mengucap kecap Sunda), tebak tembang Sunda, dan presentasi pembuatan makanan dan minuman khas Sunda. Tak kalah menariknya, juga disuguhkan berbagai macam makanan & minuman khas Sunda yang bisa dinikmati para peserta dan guru.

Pada sesi siang hari, para peserta Alka Nyunda 2018 menyaksikan bersama film Sunda berjudul Kabayan jadi Milyuner. Film yang berlatar wilayah Bandung berkultur budaya Sunda ini dimaksudkan agar siswa siswi mendapat pengetahuan visual tentang Sunda termasuk aksen bahasa orang Sunda.

Di penghujung agenda, pada sesi penutupan Alka Nyunda 2018 diumumkan kelompok kelas dan peserta terbaik. Setelah melalui tujuh pos lomba, para juri bersepakat menetapkan Kelas 9.2 sebagai kelompok terbaik pertama, disusul Kelas 9.1, dan Kelas 10.IPS.

Sementara itu, siswa peserta terbaik selama kegiatan ini terpilih : Muhammad Kharis Wicaksono (kelas 7), Rifky Aji Putra Pamungkas (8), Bebitha Nazelia Adinata (9), dan Akhdan Abdulhakim Awdy  (10).




Klik Untuk Berkomentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Berita Terpopuler

To Top