The Greatest Showman: Kebahagiaan Itu Dekat | Berita dan Review Bekasi Terkini - reviewbekasi.com
Film & Musik

The Greatest Showman: Kebahagiaan Itu Dekat

“Meski seluruh bintang kita curi dari langit malam, takkan pernah cukup

Berbagai kesulitan hidup yang melekat bersama kemiskinan di masa kecilnya membuat P.T. Barnum (Hugh Jackman) bertekad untuk bisa memiliki kehidupan yang layak di masa depan. Dalam menapaki jalan itu, ia ditemani istrinya Charity (Michelle Williams) yang berasal dari keluarga ningrat namun rela mendampingi Barnum dalam kondisi apapun. Suka maupun duka. Saat senang maupun susah.

Setelah perusahaan kapal tempatnya bekerja bangkrut, Barnum membangun museum. Usaha yang diharapkan menjadi sumber penghasilan untuk bisa hidup layak. Sayang, kenyataan tak menjumpai harapan. Museum tak bisa menjadi mesin uang.

Terinspirasi oleh gagasan anak perempuannya, Barnum merekrut orang-orang unik dan aneh untuk menjadi pengisi pertunjukan. Perempuan brewok bersuara indah, pria berbadan super besar dan super tinggi, lelaki penuh tato di sekujur tubuhnya, pasangan pelompat tali yang berani, manusia ‘monyet’ dengan bulu menutupi hampir seluruh wajah, dan lain semacamnya.

Gagasan tersebut berhasil. Pengunjung berdatangan. Antrian penonton mengular panjang.

Tak semua orang suka dengan usahanya. Pertunjukan sirkus yang dikelolanya dicemooh sebagai selera rendah. Barnum bergeming. Ia melihat wajah-wajah bahagia di hadapannya. Tidak hanya pada istri dan dua anak perempuannya, tetapi juga para penonton yang hadir di pertunjukkannya.

Popularitas membawa Barnum ke istana. Bertemu Ratu Victoria dan para bangsawan lainnya. Juga penyanyi wanita terkenal di seantero Eropa bernama Jenny Lind. Di tempat itu, Barnum berhasil membujuk penyanyi Swedia yang cantik itu untuk mengadakan tur petunjukkan bersamanya.

Obsesi kejayaan membawa Barnum berkelana ke berbagai negara, menjauh dari istri dan anak-anaknya. Memburu kejayaan bersama Jenny Lind yang diam-diam menyimpan simpati padanya.

Menyadari hati Barnum tak bisa dimiliki, Lind meninggalkannya. Satu ciuman paksa oleh Lind disematkan pada bibir Barnum di penghujung pertunjukkannya. Media menyebarkan fotonya, yang kemudian sampai juga ke istrinya. Orang-orang menyebutnya sebagai skandal, meski faktanya Barnum tak melakukan apa-apa. Jenny Lind pergi, Barnum kembali ke istri dan anak-anaknya.

Meski gedung pertunjukannya terbakar saat ia kembali, Barnum menemukan kebahagiaan sejati. Ia mendapati makna dirinya di wajah orang-orang aneh yang selama ini mengisi pertunjukannya. Juga di wajah istri dan anak-anaknya. Kejayaan dan kebahagiaan yang selama itu dikejarnya hingga ke tempat-tempat yang jauh ternyata ada di hadapannya.

The Greatest Showman yang disutradarai oleh Michael Gracey secara apik dan penuh energi menunjukkan kepada kita bahwa kebahagiaan itu dekat. Bahkan sangat dekat.

The Greatest Showman

 

*Arif Budiman adalah penulis lepas reviewbekasi.com. Penulis juga seorang pemerhati sosial, bekerja sebagai pegiat kepemiluan dan pecinta kopi.




Klik Untuk Berkomentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Berita Terpopuler

To Top