Mengulik "Parasite", Film Korea Selatan Pertama Sepanjang Sejarah yang Meraih Palme d'Or | | Berita dan Review Bekasi Terkini - reviewbekasi.com
Film & Musik

Mengulik “Parasite”, Film Korea Selatan Pertama Sepanjang Sejarah yang Meraih Palme d’Or

REVIEW, Bekasi – Sudah siap untuk menonton film tragis dari film Korea Selatan yang memenangkan Palme d’Or (penghargaan tertinggi) di ajang penghargaan Festival Film Cannes ke-72?

Film ini bercerita tentang  keluarga Kim Ki Taek (Song Kang Ho) yang semua anggota keluarganya adalah pengangguran.

Ki Taek bersama istrinya, Choong Sok (Jang Hye Jin), anak laki-lakinya Ki Woo (Choi Woo Shik) dan anak perempuannya Ki Jung (Park So Dam) tinggal di sebuah apartemen semi basment di daerah kumuh di Seoul yang sempit dan kotor. Mereka menyambung hidup dengan menjadi pelipat kotak Pizza dengan upah yang tidak seberapa.

Hingga akhirnya harapan untuk memiliki pekerjaan tetap pun datang dari teman Ki Woo, Min Hyuk (Park Seo Joon) yang menawarkan pekerjaan untuk menggantikan posisinya sebagai gurus les bahasa inggris di rumah keluarga kaya raya untuk sementara waktu selama dia belajar ke luar negeri.

Seperti tidak akan melewatkan kesempatan emas, Ki Woo pun menerima pekerjaan tersebut dan menjadi guru tutor untuk siswi SMA yang merupakan anak perempuan dari tuan Park (Lee Sun Gyun) dan istrinya Yeon Gyo (Cho Yeo Jeong). Dan akhirnya keseruan dari Keluarga ini pun dimulai.

Film ini merupakan karya ke lima dari Bong Joon Ho yang sebelumnya juga memiliki karya iconic seperti “Memories of Murder”, “The Host”, “Snowpiercer”, dan “Okja”. di Film ini Bong Joon Ho berperan sutradara sekaligus penulis, dimana di kursi sutradara dia berpartner dengan Song Kang Ho.

Okja merupakan film pertama Bong Joon Ha yang masuk nominasi di Cannes, namun Parasite lah yang berhasil menang membawa penghargaan.

Salah satu alasan film Korea Selatan menjadi favorit dan menarik adalah karena selalu mengangkat sisi kehidupan yang out of the box. di Film ini pun, kita akan dibawa untuk tertawa di awal, di tengah, bahkan hingga akhir film, tapi disisi lain kita justru dibuat stress.

Stressnya bukan karena film ini sulit dipahami, namun lebih kepada permainan mood yang kita rasakan di setiap babak film bergenre tragicomedy ini. Sejenak kita akan terbawa oleh komedinya, kemudian harus fokus lagi, tertawa lagi dan kemudian penasaran.

Rasa was-was anda akan dipacu selama film pada hal yang tidak akan terjadi. Hal ini membuat anda tidak boleh melewatkan satu scene pun dari film agar anda tahu di mana seharusnya stress itu meledak.

“Kapan saya harus takut? kapan saya harus berteriak?” Pertanyaan ini akan terus menghantui di setiap adegan, jika diibaratkan film horror yang dimana memiliki jumpscare yang pasti saat setan akan muncul, lain hal di film ini yang dimana kita akan menemui banyak jumpscare tanpa kita tahu kapan ‘setan’nya akan muncul. Kira-kira seperti itu gambaran stress saat menonton film ini.

Kesulitan lainnya adalah menentukan siapa yang antagonis di film ini, hal tersebut dirasa penting saat meonton film thriller agar mudah menentukan ketakutan dengan terlebih dahulu menghakimi si tokoh jahat. Adanya kesulitan tersebut membuat kita jadi waspada terhadap setiap karakter. Karena semua karakter digambarkan memiliki kemungkinan yang sama sebagai tokoh yang akan memulai tragedi.

Maka dari itu, kemampuan kita dalam menilai orang sangat diuji di sini. Mungkin Bong Hong Joon ingin menyampaikan agar kita tidak mudah menyimpulkan sifat dan karakter seseorang dalam sekejap.

Kontrasnya kehidupan si kaya dan si miskin di film ini pun digambarkan dari sisi yang menarik dan interaksi yang tak biasa.

Komposisi dan selipan komedinya pun terasa sangat pas dan mengalir seiring ketegangan agar penasaran berakhir.

Selain ceritanya, gambar yang ditampilkan pun cukup memberi kesan baru, terutama di beberapa scene, seolah mengingatkan agar kita tidak lupa jika sedang menonton film komedi yang ada thrillernya.

Jika harus menyimpulkan setelah menonton dari awal hingga akhir film yang berduari 2 jam 11 menit ini, sepertinya tidak ada kata yang lebih cocok dari BRILIAN. Bagaimana kita bisa merasakan lucu, menegangkan, dan mengejutkan dari segala ironi dan tragedi  yang muncul di film, dengan balutan kritik sosial yang ditampilkan mulai dari cara sederhana hingga yang diluapkan secara gamblang seperti emosi yang memuncak namun tetap halus

Begitu anda keluar bioskop bisa jadi anda bergumam “pantas saja dia bisa menang Palme d’Or” dan mungkin anda tidak akan berhenti membicarakan film ini bersama teman nonton anda sepanjang jalan hingga sampai ke rumah.

Parasite atau dalam bahasa Korea Gisengchung, akhirnya bisa di tonton di beberapa bioskop Indonesia. Parasite sudah tayang sejak tanggal 24 Juni 2019. Di Bekasi, anda bisa menyaksikan film ini di CGV, Cinemaxx, Kota Cinema Mall, dan Flix.




Klik Untuk Berkomentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Berita Terpopuler

To Top