Debat Kandidat Cawalkot Bekasi Edisi Perdana Dinilai Belum Memuaskan | Berita dan Review Bekasi Terkini - reviewbekasi.com
Pilwalkot Bekasi

Debat Kandidat Cawalkot Bekasi Edisi Perdana Dinilai Belum Memuaskan

foto: Amar Faizal Haidar/ reviewbekasi.com

REVIEW, Bekasi – Dua pasangan calon Wali Kota Bekasi 2018-2023 menjalani debat terbuka tahap perdana di Gedung Al Muhajirin, Bekasi Timur, Rabu (11/4/2018). Namun, debat yang digelar slema 50 menit tersebut masih dipenuhi aksi saling sindir antarpaslon.

Nur Supriyanto-Adhy Firdaus memulai manuver perdebatan dengan mempertanyakan polemik pendirian tempat ibadah Gereja Santa Clara, Bekasi Utara. Pertanyaan itu menyindiri kinerja Rahmat Effendi sebagai petahana dalam pesta demokrasi lima tahunan Kota Bekasi ini.

Menurut Nur, sapaan Nur Supriyanto, polemik pendirian tempat ibadah Gereja Santa Clara menciptakan situasi tak nyaman bagi masyarakat sekitar. Pasalnya, kata dia, kebijakan Pemerintah Kota (Pemkot) Bekasi saat itu dapat memantik konflik SARA.

“Kalau saya jadi Wali Kota, sisa konflik itu akan saya selesaikan,” ujar Nur mempertanyakan langkah tegas Rahmat dalam mengambil putusan kebijakan.

Nur menilai selama kepemimpinan Rahmat kurang memperhatikan fakir miskin. Selama ini, Pemkot Bekasi dituduh lebih fokus melakukan pembenahan infrastruktur fisik dibanding memberikan peningkatan sumber daya manusia (SDM). Menurut Nur, situasi itu sangat miris karena kemiskinan masih terjadi di Kota Bekasi. Sebaliknya, Dia akan memberikan jaminan sosial sebagai langkah tegas mengentas kemiskinan di Kota Bekasi.

“Kami akan bina anak jalanan, bukan sekedar kemiskinan melalui jaminan sosial yang akan diterima mereka selama 12 tahun,” kata dia.

Sementara, Rahmat menepis manuver itu dengan lugas. Menurutnya, keputusan pendirian Gereja Santa Clara diambil bersama wakil Wali Kota non aktif Ahmad Syaikhu yang kini maju sebagai calon wakil Gubernur Jawa Barat. Menurutnya, keputusan itu diambil sebagai ketegasan dalam memberikan keadilan bagi semua golongan.

“Dalam kontek bagaimana berdemokrasi politik itu seni. Seni itu berjalan dengan etika dan hati,” tegas Rahmat.

Dia mengungkapkan Kota Bekasi memiliki jumlah penduduk non muslim sebanyak 24 ribu jiwa. Baginya, setiap pemimpin jika tidak ada komitmen untuk semua golongan akan menjadi daerah rawan konflik sosial.

“KH Noer Ali (pahlawan nasional asal Bekasi) akan sedih kalau melihat Bekasi tidak pluralis. “Kota bekasi ini punya budaya dan akidah,” kata dia.

Jalannya debat terbuka ini nyaris berjalan saling sindir. Tak hanya itu, hampir setiap calon tidak memanfaatkan kesempatan bertanya sesuai tiga tema yang sudah ditentukan Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Bekasi.

Tiga tema itu di antaranya, pembangunan SDM, ekonomi, dan sosial. Kemudian disusul lingkungan hidup, transportasi, dan kependudukan. Terakhir, kesiapan kepala daerah mengawal Kota Bekasi yang ramah, modern, dan memenuhi aksebilitas.

Salah satu Panelis dari Universitas Islam “45” (Unisma) Bekasi Nandang Najmulmunir menilai debat terbuka tahap perdana tak sesuai tema. Pihaknya akan memberikan masukan ke KPU Kota Bekasi agar debat berikutnya tak keluar dari tema yang diputuskan. Terlebih, dalam debat perdana ini hampir berkutat pada polemik isu SARA. Menurutnya, polemik SARA ini dapat memunculkan gejolak sosial masyarakat yang berimbas pada angka partisipasi publik pada saat hari pencoblosan, 27 Juni mendatang.

“Secara nilai hasilnya sama kuat. Tapi banyak evaluasi bagi calon karena perdebatan lebih banyak lari di luar tema,” tegas dia




Klik Untuk Berkomentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Berita Terpopuler

To Top