Daka, Pahit Manis Jualan Rujak Tumbuk di Tengah Kota Metropolitan | Berita dan Review Bekasi Terkini - reviewbekasi.com
Sosok

Daka, Pahit Manis Jualan Rujak Tumbuk di Tengah Kota Metropolitan

foto: Amar Faizal Haidar/ reviewbekasi.com

REVIEW, Bekasi – Hujan deras baru saja mereda. Di sebuah pangkalan ojek, di perempatan Jalan Kemakmuran dekat Asrama Haji Bekasi, seorang pria tua tengah meracik bumbu. Tangannya cekatan mengupas dan memotong beberapa macam buah, lalu menumbuknya di cobekan kayu. Tak lama berselang, jadilah sajian Rujak Tumbuk yang dipesan salah seorang pembeli.

“Ini mas,”katanya kepada pemuda yang memesan rujak tumbuk.

Namanya Daka. Usianya 62 tahun. Perawakannya kurus dengan kulit yang legam karena terbakar matahari. Meski sudah tidak muda lagi, Daka masih sanggup berjalan kaki sambil memanggul beban seberat 40kg di pundaknya setiap hari, demi mencari pembeli. Seperti anomali, Daka adalah manusia tidak biasa yang nampak di pusaran kota metropolitan.

“Dari pada nganggur, bikin cepet doyok. Mumpung masih dikasih umur, ya ikhtiarlah begini, cari makan,” ucap Daka kepada REVIEW sambil terkekeh.

Daka tinggal di sebuah kontrakan di daerah Rawa Panjang bersama rekan-rekannya yang lain, yang seprofesi, pedagang rujak tumbuk. Istri bersama anak bontotnya tinggal di Indramayu, sementara empat anaknya yang lain sudah berkeluarga dan berpencar. Sebulan sekali Daka rutin menyempatkan waktu menengok istri dan anaknya di kampung.

Berdagang rujak tumbuk adalah pilihan terbaik yang dipilih Daka untuk memenuhi kebutuhan hidup istri dan anak-anaknya sehari-hari. “Modal dagangan gini murah sih, Rp100.000 bisa untuk jualan empat hari,” imbuhnya.

Daka mulai berkeliling pada jam 10 pagi. Wilayah yang disisirnya sekitar Rawalumbu, Narogong, Pengasinan, Alun-Alun dan Margajaya. Menjelang maghrib, sekitar jam 5 sore, dia sudah tiba Lagi di rumah.

Dalam sehari penghasilannya tak tentu. Kalau lagi ramai dia bisa dapat sampai Rp200.000 sehari. Meskipun sangat jarang dia dapat uang sebesar itu. Kalau lagi sepi, kadang dia dapat hanya Rp60.000. Kadang lagi apes justru tidak mendapat pembeli sama sekali.

“Biasanya musim hujan begini sepi, tapi kalau terang alhamdulillah ada aja yang beli. Pernah satu kali ada yang beli rujak sampai 50 bungkus, sampai tangan pegal,” ujar Daka sambil tertawa.

Sekali lagi, Daka adalah cerminan manusia langka di era yang oleh banyak orang disebut milenial ini. Orang seusia dia lebih banyak beristirahat di rumah, menikmati hari tua bersama keluarga. Namun Daka berbeda demi menghidupi keluarganya yang ada, dia masih perlu berpacu dengan waktu, menyisir debu di jalan, berharap dapat pelanggan rujak tumbuknya.

Semoga sehat selalu, Pak Daka…




Klik Untuk Berkomentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Berita Terpopuler

To Top